banner 400x130

Sebelum Natal Tiba: Memaknai Adven sebagai Waktu Menyimak Suara Allah

SINARSORE.COM, Mamasa – Setiap tahun, kita sering melihat suasana Natal datang lebih cepat dari seharusnya. Dekorasi dipasang sejak awal Desember, lagu-lagu Natal sudah terdengar di mana-mana dan kegiatan gereja mulai dipenuhi persiapan perayaan. Euforia ini menjad tanda bahwa adanya kerinduan kita yang sangat dalam untuk merayakan kedatangan Kristus sebagai terang di tengah-tengah dunia. Namun, sebelum tiba pada masa tersebut, ada masa di mana kita diajak untuk menghayati masa-masa penantian.

Pertanyaannya, masihkah kita memberi ruang bagi penantian itu? Apakah euforia natal telah membuat kita kehilangan pemaknaan dan penghayatan masa Adven?

Slideshow Gambar Otomatis

Deskripsi Gambar 1 Deskripsi Gambar 2 Deskripsi Gambar 3 Deskripsi Gambar 4


banner 400x400

Adven adalah masa khusus dalam tahun gerejawi yang berasal dari kata Latin, Adventus. yang berarti “kedatangan”. Masa ini dimulai sejak sekitar abad ke abad ke-4 dan ke-5 di Spanyol dan Galia sebagai musim persiapan untuk pembaptisan umat Kristen baru pada perayaan Epifani pada bulan Januari.

Namun pada ada abad ke-6, orang-orang Kristen Romawi telah mengaitkan masa Adven dengan kedatangan Kristus. Gereja mengingat bahwa Yesus telah datang ke dunia ribuan tahun lalu, tetapi Adven juga mengingatkan bahwa la akan datang kembali. 0leh karena itu, Adven bukan hanya nostalgia tentang kedatangan Kristus dalam kandang Betlehem, tetapi juga dimaknai sebagai momentum menyiapkan hati menyambut Allah yang terus bekerja dalam hidup kita saat ini.

Dalam tradisi gerejawi, di kenal ada empat minggu masa adven dengan masing masing pemaknaan dan ditandai dengan 4 lilin adven (3 berwarna ungu dan 1 bewarna pink/merah muda). Selama empat minggu ini, setiap minggunya punya makna penghayatan masing-masing.

Minggu pertama, berbicara tentang pengharapan, yakni ketika gereja diajak untuk menyalakan kembali keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dunia dan bahwa janji keselamatan-Nya tetap kokoh. Minggu ini juga bermakna sebagai penyerahan dir kepada Allah dalam keyakinan dan pengharapan kita Simone Weil, seorang filsuf dan mistik Prancis mengatakan “menunggu dengan sabar dalam pengharapan adalah dasar dari kehidupan spiritual.” Jadi sebelum memasuki masa raya Natal, kita diajak dalam penantian kita dengan tetap berpengharapan kepada Allah di
dalam nama yang kita nantikan akan datang, Yesus Kristus.

Minggu kedua, mengingatkan tentang cinta, yaitu cinta yang Allah hadirkan melalu Kristus untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Pada masa ini kita diajak untuk merenungkan kembali makna kedatangan Kristus sebagai pembawa damai sebagai tanda cinta-Nya bagi dunia. Makna ini sekaligus juga sebagai refleksi bagi kita untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan kita yang hendaknya hidup dengan membawa damai dan cinta kita bagi sesama.

Memasuki minggu ketiga, gereja merayakan sukacita yang sering disebut Gaudete Sunday, karena kedatangan Allah semakin dekat dan juga karena sukacita sejati bukan berasal dari hal-hal duniawi, tetapi dari kehadiran Tuhan yang hidup di tengah umat-Nya. Jadi, hidup yang kita jalani juga hendaknya menunjukkan suasana sukacita sebagai wujud rasa syukur kita atas cinta Tuhan bagi dunia dan sukacita dalam penantian akan kedatangan-Nya bagi dunia.

Minggu keempat, adalah tentang perdamaian, yang bermakna gereja diingatkan bahwa Mesias datang sebagai Raja Damai yang memulithkan relasi manusia dengan Allah, dengan sesama dan dengan seluruh ciptaan. Pada bagian ini, kita sekaligus dapat merefleksikan bahwa dalam perayaan kita mengingat hari kelahiran Yesus, damai itu hendaknya kita hidupi lewat perkataan, perbuatan dan sikap kita setiap saat.

Keempat minggu ini membentuk perjalanan rohani yang utuh: pengharapan, cinta, sukacita, dan perdamaian yang semakin bertumbuh, agar kita dapat menyambut Natal bukan dengan tergesa-gesa, tetapi dengan hati yang benar-benar siap.

Oleh karena itu, kita seyogyanya tidak perlu terburu-buru tiba pada perayaan Natal. Akan ada masa, dalam kalender gerejawi biasanya pada tanggal 25 Desember – 5 Januari (Twelve Days of Christmastide), kita akan tiba pada perayaan itu dan menghidupinya dalam penghayatan kita masing-masing.

Di masa Adven, kita belajar untuk memberi ruang bagi diri untuk menyimak apa yang Allah ingin sampaikan. Menyimak suara Allah berarti membuka hati terhadap tiga hal.

Pertama, menyimak firman Tuhan yang kita renungkan dalam setiap minggu advennya. Bacaan-bacaan Alkitab di masa Adven akan menuntun kita pada pengharapan pertobatan dan kesetiaan.

Kedua, menyimak kehidupan kita sendiri. Apa yang sedang kita gumuli, apa yang Allah ingin pulihkan dan di mana kita perlu berubah.

Ketiga, menyimak dunia di sekitar: pergumulan keluarga, masyarakat, gereja dan seluruh alam semesta yang mungkin sedang menantikan uluran kasih Tuhan melalui kita. Semua ini kita hayati sebagai bagian dari penantian kita akan kedatangan Kristus untuk menyelamatkan dan memulihkan seluruh dunia.

Pada akhirnya, Adven mengingatkan kita bahwa hidup beriman bukan soal berlari, tetapi soal melangkah dengan hati yang terbuka. Sebelum Natal tiba, mari kita memberi ruang bagi Allah untuk berbicara. Ketika hati kita sudah disiapkan oleh proses penantiar ini, sukacita Natal tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi pengalaman iman yang sungguh hidup.

Semoga masa Adven ini menjadi waktu berharga bagi kita untuk menyiapkan diri menyambut karya Allah yang baru dalam kehidupan kita.

Oleh: Guswandri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Slideshow Gambar Otomatis

Flash Gambar Ganti-ganti Otomatis

Deskripsi Gambar 1 Deskripsi Gambar 2 Deskripsi Gambar 3 Deskripsi Gambar 4